Episode Baru Kebebasan …
Sebuah kijang krista merah melintas dengan cepat, terlihat delapan orang di dalamnya bercengkrama ramah. Wajah mereka ceria, tidak tersirat sedikit pun bahwa mereka dalam sebuah perjalanan yang panjang menuju belahan timur pulau jawa. Tampak sesosok lelaki muda yang duduk di depan kembali meremas-remas tangannya, diam, entah untuk yang kesekian kalinya, basah dengan keringat dingin yang terus mengalir. Wajahnya termenung, memikirkan sesuatu yang sangat berat. Sebuah guratan ketakutan yang amat sangat, seakan menghapus keremajaan senyumannya. Seminggu yang lalu ia teringat, ketika sebuah ucapan lantang sampai padanya, “Akhi, sudah saatnya”. Hari ini pun dengan terpaksa ia harus mengayunkan tapaknya yang lemah.
Ia masih duduk di bangku depan, di samping bapak sopir yang terus berkonsentrasi, sambil memandang kedepan melihat batas-batas awan yang terburai lemah di sepanjang jalan itu. Pikirannya melaju cepat menembus lajunya kendaraan menikam-nikam butiran keringat, bahkan sedikit pun tak sanggup mengusik matanya yang menderu kebingungan di dalam hati. Mereka yang menemaninya hanya bisa tersenyum, gersang, tak sanggup menggugah kegembiraannya. Keheningan hanyalah keheningan yang ia rasakan dan mereka pun yang ada hanyalah pencipta kekakuan dan keraguan.
Huff… Lelaki itu kembali menghembuskan nafas beratnya, membelah rona-rona asanya di kampus dahulu. Memori kebebasan yang menghiasi hidupnya 3 tahun lalu.
“Akhi, antum sekarang menjadi koordinator aksi kita untuk besok, gimana?”, kata Anwar.
Dan Ia pun menjawab dengan semangat, “Insya Allah ana siap, kalau begitu tolong undang semuanya, kita harus syuro’ sore ini”.
Ba’da sore itupun, dimasa lalunya, Ia sedikitpun tidak kembali kerumahnya, di markas kecil dekat kampusnya terdahulu dijadikan tempat untuk bermalam, mempersiapkan atribut-atribut perjuangan untuk aksi besok. Itulah sosoknya, pejuang rakyat, mahasiswa, bak pendekar kebebasan, yang mencoba membebaskan tirani dari dalam dirinya, sebuah kebebasan yang ia citakan yang selalu Ia harapkan, kebebasan-kebebasan untuk selalu mengabdi kepada Rabbnya.
Tanpa ia sadari kendaraan yang ia tumpangi pun bergerak memasuki jalan umum yang lebih padat. Namun layaknya seperti patung yang tak bernyawa, Ia tetap tidak memperdulikan itu semua. Bayangannya hanya menghantui masa lalunya.
“Afwan bapak! Kami dari Rohis mahasiswa membutuhkan dana untuk kegiatan kaderisasi”, sekelompok kecil mahasiswa berjanggut menghadapnya untuk meminta bantuan.
“Acara apa ini? Bisa tolong dijelaskan? Butuh berapa?”, tanyanya ringan, walaupun Ia dahulu hanyalah karyawan biasa, maka yang Ia rasakan adalah sebuah kebebasan untuk men-Infaqkan hartanya.
“Saya hanya punya sekian, gak apa-apa kan”, dan itulah Ia dengan senyumnya, tanpa sedikit pun keraguan, Ia relakan keinginannya untuk jalan dakwah. Bahkan tidak sedikit pula waktu yang ia relakan untuk memenuhi majelis-majelis taklim.
Tiba-tiba yang berada di bangku belakang bersuara agak lantang. “Akh, sebentar lagi sampai”.
Tersentak kaget Ia dari lamunannya, panorama kehidupan masa lalunya. Sebentar lagi, sebentar lagi saatnya, Lelaki itu akan kehilangan, kehilangan panorama-panorama indah itu, perlahan tapi pasti kan menghampiri.
“Antum, sudah siap kan?”, kata suara yang di belakang menegaskan.
“Ini Jihad akhi, Jihad, ingat Ridho Allahlah yang antum cari”.
Terlihat penolakan yang sangat kasar dari wajahnya, walaupun itu tidak terucap sedikitpun dari mulutnya. Raut-raut wajahnya menegang menguburkan untaian senyumannya yang sederhana. Keringat dingin pun mengairi keluhan nafasnya. Tergetar pori-pori jiwanya, Ia merasa takut, takut sekali kehilangan malam-malam indahnya bersama saudara-saudaranya. Ia takut, takut sekali kehilangan lelah-lelah yang ia rasakan karena sering meninggalkan rumah. Ia tidak rela sedikit pun kehelingan masa-masa bersama rekan-rekannya. Ia tidak rela kalau nanti Ia tidak bisa melepaskan hartanya. Rasanya, ia tidak sanggup melalui ini, Ia tidak ingin mengubur memori-memori indah ini.
“Nah, sudah sampai akh, ini dia saatnya”, kembali yang di belakang mengingatkan lelaki itu.
Dengan keraguan lelaki itu memasuki sosok bangunan yang ada di hadapannya, diiringi oleh rekannya yang berada di belakang. Sesampainya di dalam, dilihatnya beberapa orang telah menunggu kehadiran mereka, kecemasannya pun kian bergemuruh, “jangan-jangan”, pikirnya. Kemudian, dengan ramah tuan rumah mempersilahkan mereka untuk duduk. Percakapan penting pun terjadi dan ia pun hanya terdiam seribu bahasa, bukan-bukan, bahkan berjuta kata. Galau dipikirannya pun sampai membuat Ia tak dapat memahami seluruh makna yang telah diperbincangkan, yang Ia mengerti hanyalah sebagian kecil saja, transaksi, ya.. transaksi. Ah… gelap, yang muncul kemudian di benak lelaki itu hanyalah bayang-bayang wajah, ayahnya, ibunda, adik-adiknya, teman-temannya, bahkan semua orang yang pernah Ia temui.
Kemudian sesosok bentuk bergerak di hadapan lelaki itu berada tidak begitu jauh di depannya, tapi cukup menandakan wujudnya, dan sosok itu pun berkata, hanya sebuah kalimat. Lelaki itu pun sedikit terhenyak, karena ia tidak mengerti apa yang diucapkan sosok itu padanya, ia hanya mengerti kegalauannya, ia hanya mengerti keraguan dan kebingungannya.
Tanpa tahu apa yang harus Ia perbuat, Ia pun berkata, “Nama saya Salman Fatturohman”, sambil mendongakkan kepalanya. Seketika itu pula waktu pun berhenti, tidak ada sedikitpun keringat mengalir, jantungnya pun berhenti dari segala ketidak teraturan, yang ada hanyalah deguban-deguban berirama mengiringi kalimat-kalimat yang diucapkan sosok di depan.
“Billa berharap bahwa nanti, Jihad kita ini tidak akan mengurangi sedikit pun gerak langkah kita dalam menegakkan syiar Allah, Al-Islam. Billa tidak akan menghalang-halangi ataupun meredam sedikit pun dakwah antum, dan Billa akan menjadikan diri Billa sebagai pendorong dan penyemangat dakwah kita ini. Insya Allah, karena Billa pikir kita semua sudah tahu kewajiban kita masing-masing sebagai da’i”.
“Insya Allah, ukhti!”, sambil tercengang lelaki itu mengangkat senyum di wajahnya, hancur semua kebimbangan yang telah susah payah ia bangun. Sebuah sosok yang mengagumkan, yang tidak bisa dijelaskan dengan foto dan biodata yang dia terima seminggu lalu, melainkan dengan bertemu langsung dengannya, Salsabilla, dalam khitbah ini.
__________________________
Surabaya, May 10, 2004. 10:59 jundi-x
für : Dedy, Ikhwan dan Agus, kapan akhi ? Sudah saatnya antum memulai Jihad ini! mr.Hendro thanks ‘tuk informasinya ;p
Posted in the Rainbow of Life