Jirah Pejuangku…

February 21st, 2009 by awamer

Inikah yang disebut kegilaan, insanity? ketika kucoba membalik-balik lembaran majalah itu, setetes kilauan bening berkaca di wajahku, cengeng! Sebuah untaian sederhana yang dituliskan “saya pinta yaa Rabb…pinjamkan sejenak tanganMu, berikan setetes air dari IlmuMu, tanpa itu yaa Rabb, sungguh saya takkan berhasil menuntaskan tulisan ini, yaa Rabb kumohon kiranya tulisan ini mempunyai ruh yang bisa bermanfaat bagi pembacanya.”

Sungguh kawan hari ini tak dapat kutahan tuk ungkapkan berai ini, biarlah orang berkata buruk tentangku. Memang itulah aku! Kucoba tuk mengingat kembali apa yang terjadi, serpihan-serpihan itu, seolah menghinakan diriku! Ingatkah kau ketika kita bersama-sama menggunakan jirah ini, kau mengajakku kawan, kau mengajakku 7 tahun yang lalu menggunakan jirah pejuang, ya… bersama-sama. Jirah kecil yang sederhana dengan sedikit pengamannya disana-sini, tidak begitu berat kawan, sangatlah ringan. Ya… aku ingat sekali, Jirah pertamaku.

Pendatang baru, orang baru atau tepatnya pejuang baru, begitulah mungkin julukanku saat itu, dan dengan bangganya kugunakan jirah pertamaku. Kawan, waktu pun berjalan maka aku pun menempati posisiku di dalam barisan, bukan sebagai pasukan terdepan, bukan pula yang terbelakang, tapi itu cukup menggembirakan aku. Tapi engkau dimana kawan, aku hanya melihat punggungmu di kejauhan, aku hanya bisa berkata bahwa dirimu itulah temanku.

Seiring waktu berjalan jirahku pun ikut berganti, sedikit lebih kokoh tapi ternyata juga sedikit lebih berat. Ah… dengan bangga kubusungkan dadaku bak layaknya seorang prajurit yang baru mendapatkan tanda baru di pundaknya, posisiku pun dirubah sedikit kedepan, walau belum dapat dikatakan terdepan. “Hebat!”, begitulah ucapku.

Ternyata di dalam jirah itu terkait pula selendang kemegahan, yang seharusnya tak pantas kugunakan. Maka kawan 3,5 tahun lalu, kau pun tahu kalau aku terlepas dari pasukanku. Tapi aku masih menggunakan jirah itu! Jirah pejuang itu, dan aku bangga sekali…

Sampai setahun yang lalu, langkahku pun membawaku kembali dalam barisan kawan, disambut bak pahlawan perang kesiangan, di-semat-kanlah sebuah Jirah Pejuang baru dipundakku, lebih berkilau, lebih kokoh, dan lebih berat kawan. Aku sanggup menggunakannya, kataku pada diriku! Aku yakinkan bahwa terlepasnya diriku dari pasukan 3,5 tahun yang lalu bukanlah menjadi penghalang bagiku untuk melanjutkan komando, ya… aku mendapatkan Jirah Komando. “Masa-masa hilangku bukanlah masa kehilangan ilmuku”, kataku. Itulah aku kawan dengan ke-congkak-anku, maka tanpa ilmu dan strategi perang pun aku mau menggunakan Jirah itu, dengan bangga…

Setiap aksi-aksi pun aku berada di depan dengan gagah, dan orang-orang pun menganggap bahwa aku adalah seorang yang gagah, bukankah kau juga beranggapan begitu, kawan? Diskusi, debat ataupun bentuk-bentuk ke-Ilmiahan lainnya mereka juga menganggap bahwa akulah yang terdepan, dan aku merasakan itu pula kawan. Lagi-lagi kulilitkan selendang kemegahan itu. Bahkan ketika kita turun ke jalan pun, aku masih yang terdepan, memasangkan diriku di depan, dihadapan ‘kelompok penyerbu’, seolah-olah tak takut mati. Belum lagi ketika kulontarkan kalimat-kalimat rayuan, maka tidak sedikit orang yang mau bergabung dengan pasukan kita. Julukan-julukan yang lain pun ikut melekat, dengan segala macam pikiran manusia, orang-orang yang senantiasa melihatku sebagai seseorang yang mengenakan Jirah Pejuang dengan selendang kemegahan.

Tahukah kawan ketika hari ini kucoba mengangkat jirah ini, kulepaskan selendang ini, ternyata yang nampak hanyalah sesosok pengecut, bodoh, lemah dan tak berdaya. Keberanianku adalah sebatas Jirah ini, kepandaianku hanyalah sebatas selendang megah ini, dan aku hanyalah manusia yang paling tidak berdaya di dunia ini. Yang terlihat tanpa sosok Jirah Pejuang pun hanyalah tubuhku dengan luka-luka yang bernanah, tertikam oleh tangan-tanganku sendiri, bukan luka tusukan musuh, melainkan akulah pembuat luka itu.

Yaa Rabb memang tidaklah pantas aku berbangga dengan Jirah ini, tak pulalah aku layak menggunakan selendangMu, karna hanya Engkaulah yang pantas mengenakannya. Izinkanlah hambaMu melepaskan Jirah ini, mengembalikan selendangMu, biarlah dengan tubuh ini hambaMu berjuang. Yaa Rabb sungguh diriku penuh dengan luka, maka berikanlah sedikit rahmatMu agar aku dapat berIstiqomah menyembuhkan luka ini. Yaa Rabb kuharap dengan sangat ridhoMu dalam perjuanganku, Izinkanlah aku maju bersama saudara-saudaraku tanpa Jirah ini, biarlah Engkau yang menjadi pelindungku.

__________________________
Dhuha, 1 Rabi’ul Awwal 1425H
jundi-x

Posted in the Rainbow of Life

Leave a Comment

Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.

About The Heart of Jundi

adalah bisikan hati para pejuang, pejuang yang berusaha menyusuri jalan Tuhannya, setapak demi setapak, didalam kerinduan yang membara, berharap akan pertemuan denganNya, berharap akan ampunan dan kasih-sayangNya

... just trying to be a jundi