Rajutanku
Masih dengan langkahku, ku coba susuri lorong ini. Mencari sebuah sinar yang tak mungkin kutemukan. Hari ini, di pagi ini ku terus menatap panjangnya lorong, menunggu seberkas cahaya. Sebagai tanda kutemukan tujuanku. Tapi sekian lama, sekian peluh yang membasahi tubuhku, tak kunjung pula kutemukan cahaya, di pelupuk mataku.
Ku mulai bertanya pada diriku, pada kegelapan yang menyelimuti lorong ini, pada kesunyian yang menyelimuti hatiku. Kapan? Kapan? aku dapat bertemu cahaya itu. Rindu? Rindu? Rindu sekali aku ingin bertemu. Rindu melihat pagi ini dengan sinar itu. Seperti apakah sinar itu, indahkah ia, lembutkah ia. Bertubi-tubi pertanyaan itu menghantui kepalaku, tapi kaki ini tetap dalam langkahnya, tanpa berusaha mencari.
Hufff…, mulut pun mulai mengeluh dengan uap panasnya, kulit pun medidih mengeluarkan peluhnya. Tapi tak kunjung pula kutemui sinar itu. Banarkah aku melalui lorong ini, apakah ini lorong yang tepat. Jangan-jangan salah. Kembali sebuah kegalauan menghantuiku, haruskah aku memulai dari awal lagi. Jalan yang kutempuh sudah terlalu panjang, menghabiskan 18 tahun hidupku. Kalaupun aku kembali, hanya akan menambah penyesalan yang tak dapat diuraikan. Namun satu yang ku tau, ku akan coba untuk merajut benang-banang di tanganku ini, paling tidak, dapat menutup kagalauanku.
Seuntai demi untai, sehelai demi helai, bukan sweater yang kuinginkan dari rajutan ini. Tapi sinar itu yang kuinginkan, sinar itu yang kurindukan, sinar yang dapat menutupiku dari kegelapan dan kesunyian.
Tehenti langkahku, terhenti pula rajutanku, terbersit ide, buat apa aku mencari sinar itu, kan masih ada keremangan. Lebih baik mencari yang mudah dulu dari pada yang susah. Kemudian ku berfikir kembali, kalau toh aku mendapat sinar itu bisakah aku menjaganya, bisakah aku mempertahankan. Sedikit angin segar dari pikiranku memberikan kesejukan. Tapi yang kudapatkan hanyalah kesejukan yang kering, tanpa ada nilai kelembapannya, sama sekali tidak alami. Kesejukan dari sebuah alat penyejuk, bukan hawa sejuk pegunungan. Gontai badan ini, tak kuat kaki menahan tubuh ini, kurasakan malam mulai menyelimuti lorong ini. Tak kurasa waktu berlalu dengan cepat. Tapi pikiran tadi sempat memberikan cambukan, rajaman pada jiwaku yang lain, dan yang lainnya merasakan kesejukan.
Apa! Apa! Yang harus kulakukan, berlinang air mata ini, seperti selama ini. Berlinang penyesalanku akan kebodohanku, akan ketulianku akan kebutaanku terhadap sinar.
Masih ada harapan, pikirku. Rajutan pun mulai terbentuk, seiring kumulai langkahku menyongsong keesokan pagi. Hari apa ini, akupun tidak tau. Tapi ada semacam semangat kembali yang menggetarkan tubuhku, menarik ubun-ubunku, mendongakkan kepalaku, mengencangkan hatiku. Terus! Terus! Terus! Mencari cahaya itu.
Sesuatu yang berkedip muncul diujung sana membuatku kembali bertanya, untuk kesekian kali, untuk jumlah yang tak terhitung. Itukah sinar itu, ku usap-usap mataku, tanda tak percaya. Namun sinar itu masih kecil sekali. Rajutanku pun mulai membesar, membuat ku bertanya, sudah terbentuk, tapi apa yah…? Sisa-sisa tenaga ku kumpulkan, semangat, doa, keyakinan, dan apa pun yang ada di lorong ini kugunakan, untuk menjadi sumber kekuatanku menggapai sinar itu. Terus! Terus! Lari, sedikit lagi, sedikit lagi. Rajut! Rajut terus, tak henti tangan ini merajut.
Ah…, aku tersandung, jatuh berguling-guling. Lecet dimana-mana. Aku berdiri! Begitu kata hatiku. Akupun berdiri, kuangkat tanganku, kuraba-raba, mana rajutanku. Ah… ini kutemukan.
Kupegang dengan lembut, merasakan sentuhannya, sehingga memaksa hatiku untuk mengenakannya. Apa ini…! Rajutan itu pun terpasang ditubuhku, ah… lembut sekali, sampai membuatku terlupa akan sinar itu. Namun, setelah ku kenakan rajutan ini, yang nampak adalah sinar itu, menghampiriku dengan lembut, dengan belaiannya, dengan kasih sayang dengan segala yang ia miliki, kembali berlinang air mata ini. Uh… itulah kecengenganku, tapi bukan karena sedih, tapi karena kegembiraan.
Sinar itu menerangi, menerangi sekeliling, dan kudapati diriku di ruang yang luas, dimana aku dapat melihat wajah-wajah yang tersenyum padaku, menampakkan keramahan mereka, persahabatan mereka. Tak kusangka merekapun ternyata mengenakan rajutan di tubuhnya, kemudian mataku berhenti memandang mereka, terpaku pada sebuah cermin di ujung sana.
Setapak demi setapak kaki ini melangkah dengan pasti, ketegaran membunuh kegalauan, kepastian membinasakan keraguan. Hanya satu tekad yang kupupuk, aku harus melihat diriku di cermin itu, aku terkejut sekan tak percaya. Itukah aku, itukah diriku, setelah 18 tahun pengembaraanku di lorong dan akhirnya kutemukan ruangan ini. Kalau tahu begini jadinya pasti aku akan merajut benang itu, berlahan-lahan, tanpa perlu mencari sinar itu, karena pasti sinar itu akan datang apabila rajutanku selesai. Dan kenapa pula aku harus berpikir-pikir untuk mencari keremangan yang tiada gunanya.
Akhirnya yang kudapati di cermin itu, sesosok yang mengenakan baju rapi dengan rajutan indah yang menutupi kepalanya. Sehingga hanya kulit wajah dan telapak tangan yag terlihat. Itulah sosok diriku mulai hari ini…
Ya…, sinar itu, hidayah Allah yang telah sampai kepadaku, dan akan selalu kujaga, takkan kubiarkan sinar itu redup sedikitpun, sampai jantung ini tak dapat memompakkan darah lagi keseluruh tubuhku.
Alhamdulillah, segala puji bagi Mu ya Allah, Tuhan pencipta seluruh alam, hari ini kutemukan diriku sebenarnya.
______________________
Surabaya 2001 jundi-x für : my beloved sisters
Posted in the Rainbow of Life