Seseorang Itu Bersama Orang Yang Ia Cintai

March 30th, 2009 by awamer

“Seseorang itu bersama orang yang ia cintai.” [Muttafaqun alaihi]

Dalam hadits ini terdapat anjuran untuk menguatkan cinta kepada para Rasul dan ittiba’ kepada mereka sesuai dengan tingkatan-tingkatan nya, serta tahdzir (peringatan) dari cinta kepada lawan mereka. Karena Sesungguhnya cinta (al-Mahabbah) merupakan tanda kuatnya hubungan antara orang yang mencintai dengan yang dicintai, dan kesesuaiannya dengan akhlak orang yang dicintai serta tanda bahwa ia mengikuti orang yang dicintainya itu. Yang demikian merupakan tanda adanya al-Mahabbah dan merupakan pembangkit al-Mahabbah.

Dan juga, barangsiapa yang mencintai Alloh ta’ala maka rasa cintanya
tersebut merupakan sebesar-besar hal yang mendekatkan dirinya kepada
Alloh. Karena sesungguhnya Alloh Maha Mensyukuri, Dia membalas orang yang mendekatkan diri kepada-Nya lebih besar -dengan balasan yang belipat ganda- daripada yang dilakukan orang tersebut. Dan termasuk syukur Alloh adalah : mempertemukannya dengan orang yang dicintainya, walaupun amalan orang yang mencintai itu sedikit. Alloh berfirman :

“Barangsiapa menta’ati Alloh dan Rasul, maka mereka bersama orang-orang Yang telah Alloh beri nikmat kepada mereka dari para Nabi, para orang yang Shiddiq, para Syuhada’ dan orang-orang sholeh, dan mereka adalah sebaik-baik teman.” [QS an-Nisa : 69]

Oleh karena itu Anas berkata :
“Kami tidak pernah bergembira sebagaimana gembiranya kami dengan
sabdanya: “seseorang itu bersama orang yang ia cintai”, Anas
berkata : “Aku mencintai Rasulullah , Abu Bakar dan Umar.
Dan aku berharap dapat bersama mereka.” [1]

Dan Alloh berfirman :
“surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan
orang-orang yang sholeh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu.” [QS. ar-Ro'du : 23]

Dan Alloh berfirman :
“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka.” [QS.ath-Thur : 21]

Dan ini merupakan kenyataan, jika seseorang mencintai orang-orang yang
baik, engkau melihat ia termasuk mereka, ia bersemangat untuk menjadi
seperti mereka. Dan jika seseorang mencintai orang-orang yang buruk, ia
termasuk mereka, dan ia beramal seperti amalan mereka.

Rosululloh bersabda :
“(Agama) seseorang itu sesuai dengan agama teman dekatnya, maka
perhatikanlah dengan siapa kalian berteman dekat.” [2]
“Permisalan teman duduk yang baik/ sholeh seperti pembawa misk, mungkin ia akan memberimu, atau menjualnya kepadamu atau mungkin engkau akan mendapati darinya bau yang wangi. Dan permisalan teman duduk yang buruk seperti peniup bara api, mungkin ia akan membakar pakaianmu dan mungkin engkau akan mendapati darinya bau yang tidak sedap.” [3]

Dan jika ini adalah dalam cinta antara sesama makhluk, maka bagaimana
Dengan orang yang cinta kepada Alloh dan mendahulukan cinta dan takutnya di atas segala sesuatu? Sesunguhnya ia bersama Alloh, dan telah menghasilkan pendekatan yang sempurna dari-Nya. Yaitu kedekatan orang yang saling mencintai, dan Alloh bersamanya.
Maka : “Sesungguhnya Alloh bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang Yang berbuat kebaikan.” [4]

Dan macam-macam kebaikan yang paling tinggi adalah kecintaan kepada Ar-Rohim Al-Karim Ar-Rohman dengan cinta yang disertai dengan pengetahuan tentang-Nya.
Maka kita memohon kepada Alloh agar memberi rizki kepada kita dengan
kecintaan kepada-Nya dan kepada orang yang mencintainya serta kecintaan kepada amal yang bisa mendekatkan untuk cinta kepada-Nya. Sesungguhnya Alloh Maha Dermawan dan Maha Pemurah. Dan Taufiq hanya milik Alloh.

***

[Diterjemahkan dari kitab Syarh Jawami'il Akhbar karya asy-Syaikh
Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, hadits ke-84,
sumber : http://sahab. org.
Catatan kaki oleh Abu SHilah]

Catatan Kaki :
[1] HR. al-Bukhori (3485), Muslim (2639), Ahmad (13395), Abd bin Humaid
dalam Musnad-nya (1336) dan Ibnu Mandah dalam Kitabul Iman (1/439).

[2] HR. Ahmad (8398), Abu Dawud (4833), at-Tirmidzi (2378), Ahmad
(8389),al-Hakim (7319), ath-Thoyalisi (2573), al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman (9436,9438, ), Abu Nu’aim dalam al-Hilyah (3/165), Ishaq bin Rohawaih dalam Musnad-nya (351), Abd bin Humaid dalam Musnad-nya (1431), dll.

[3] Kami belum menemukan hadits ini dengan lafadz ini -Wallahu A’lam-,
akan tetapi banyak riwayat-riwayat lain yang semakna dengan lafadz ini,
seperti :
“Permisalan teman duduk yang sholeh dan teman duduk yang buruk adalah
seperti pembawa misk (sejenis minyak wangi, pent) dan peniup bara api.
Orang yang membawa misk, mungkin ia akan memberimu (misk) atau engkau membeli darinya atau engkau akan mendapatkan darinya bau wangi. Adapun peniup bara api, mungkin ia akan membakar bajumu atau engkau akan mendapatkan bau yang tidak sedap.” [HR. al-Bukhori (5214), Muslim (2628), dll]

[4] QS an-Nahl : 128.

Posted in The Deen

Leave a Comment

Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.

About The Heart of Jundi

adalah bisikan hati para pejuang, pejuang yang berusaha menyusuri jalan Tuhannya, setapak demi setapak, didalam kerinduan yang membara, berharap akan pertemuan denganNya, berharap akan ampunan dan kasih-sayangNya

... just trying to be a jundi